Finally ada waktu untuk kembali bercerita di sini. Curhatan tentang pekerjaan selalu ngeri-ngeri sedap, ya. Suka bimbang, is it wise to write or not? How about this part? Am I gonna write the truth very detail? Ya, tapi udah niatan sejak mengajukan resign untuk (suatu saat) akan bercerita.

Saya rasa, semua teman atau mereka yang mengenal saya bakalan sedikit shock mendengar kabar nggak enak ini. Nggak usah mereka, saya pun juga nggak menyangka. Karena secinta itu sama kerjaan ini.

How I Love My Job

Travelingyuk
Travelingyuk

Menulis adalah kebutuhan. Sama seperti ngobrol sama orang-orang kesayangan. Sejak pertama kali mendapat kesempatan untuk dapat duit dari menulis, it’s always exciting, sampai detik ini! Benar-benar nggak bakalan melupakan orang-orang yang membuka jalan (Ewik yang ngabarin ada vacancy, meski akhirnya nggak lolos hahaha), mereka yang memberi kesempatan (7 surga), juga mengulurkan tangan untuk menularkan ilmunya (teman di kantor lama, Mba Tita, Febri, Isti. I owe you a lot, guys. Thank you for made me who I am.

Family
Family

Ngantor pertama bareng kalian itu nggak salah. Jadi nggak skeptis, bahwa memang kantor nyaman, tanpa tusuk kanan kiri biar selamat itu beneran ada.

Freelance Pertama? Goceng!

Tulisan ini akan menjadi rangkuman singkat perjalanan hingga di mana saya berada sekarang. Salah satu terpenting yang nggak bisa terlewatkan untuk diceritakan adalah pengalaman freelance! Hahahaha. Jujur, karena belum pernah kerja sebelumnya, jadi nggak tahu kalau kita bisa kerja dobel demi jajan tanpa merasa bersalah. Dan profesi saya sebagai content writer ini termasuk paling gampang cari ceperan.

Thanks Mba Dyan
Thanks Mba Dyan

Thanks to Mba Dian yang pertama kali ngasih job-joban freelance. Kalau nggak salah inget, per artikel SEO-nya harganya goceng. Nggak cukup buat kopi susu aren, ya. Untungnya dulu belum ada. Masih cukup dan angsur untuk beli kopi nescafe kotakan. But I was so happy!

Seiring berjalannya waktu, banyak belajar dan memang pengalaman harganya mahal, rate freelance saya juga meningkat hingga berkali-kali lipatnya. Sempet kaget sendiri, bisa ya dari satu artikel aja dapetnya segini. Sampe tepuk tangan sendiri, karena kalau tepuk dada kamu, malah nggak jadi pisah kitanya. Ya, kan. Proyek-proyek lain pun berdatangan.

My partner once said, “Kerjaan 4 juta kenapa repot banget dibikinin kontrak segala?” Ya karena pengen nerapin ke diri sendiri, nggak peduli berapa nilainya, still, I will do it profesionally. Gitu.

Kerja Sesuai Passion

Bekerja sesuai passion
Bekerja sesuai passion

Di kalangan milenial (termasuk saya), juga fresh graduate, sempet rame bahas lebih enak kerja sesuai passion. Saya rasa, nggak semua beruntung bisa dapat duit dari hobby dan nyaman. Alhamdulillah, saya termasuk di dalamnya. Saya bekerja dan dibayar melakukan hal yang saya suka: menulis.

Yang seringnya lupa, kerja sesuai passion pun nggak absen dari capek, bosen, eneg, muak, dan pengen muntah. Momen-momen pengen putus dan jauhan dari laptop ya ada. Meski biasanya nggak bisa jauh lama-lama juga, tetep nggak semulus wajah Song Hye Kyo, kok.

Kesempatan Jalan-jalan Gratis

Yeay, staycation again!
Yeay, staycation again!

Namanya juga media online di bidang travel, ya kerjanya pasti banyak jalan-jalannya. Alhamdulillah, kerjaan ini pernah bawa saya ke Makassar, Bali berkali-kali, Solo, Jogja, dan banyak lainnya. For free? Iya dong.

Nggak jarang denger temen, saudara, dan orang tak dikenal, komentarnya begini, “Enak ya kerjanya liburan terus.”

Of course, enak!! Enak karena kerjanya nggak kudu selalu di kantor. Keliling dari hotel ke hotel, cobain makanan ini itu. Cuma yang nggak tampak dari luar adalah jadwal padatnya hahaha. Kalau lagi ada kerjaan review tempat, jadwal biasanya dari jam 6 pagi sampai malam. Nggak berasa liburan, ya. At all. Ya karena memang kerja.

Makanya, saat liburan datang, maunya tetep di hotel. Cuma kali ini biasanya cuma staycation. Diem di hotel, doing nothing. Bener-bener nggak mau ngapa-ngapain. Makan pun di restonya atau gofood. Nggak ada yang namanya explore tempat wisata, cobain kuliner terkenal. Ha ha ha. Cukup, mari kembali ke kasur, sayang.

Lahirnya melisalalala.com

melisalalala.com
melisalalala.com

Kerjaan ini jugalah yang menjadi salah satu alasan lahirnya melisalalala.com. Blog yang akhirnya rilis dikarenakan banyaknya pengalaman yang nggak punya rumah untuk diabadikan. Sekaligus menjadi penerang tentang apa sih sebenarnya yang pengen saya lakukan? Apa yang ingin saya raih? Apa target ke depannya?

Menciptakan satu cita-cita ternyata membuat semuanya lebih terarah. Kenapa lebih banyak membahas tentang hotel? Karena saya pemalas. Maunya bikin kontennya nggak perlu keluar hotel. He he he.

Keinginan Hingga Jadi Keputusan

Farewell, Travelingyuk
Farewell, Travelingyuk

Rasa ingin resign muncul lebih dari sekali. Berkali-kali ditahan, berkali-kali mencoba lagi, berkali-kali menanam harapan baru. Saya nggak bohong waktu menjawab “Pengen pindah kota.” setiap kali ditanya alasannya apa. Namun, itu hanya salah satunya. Kehilangan cinta pada pekerjaan menjadi alasan utama.

Ada banyak faktor, terlalu kompleks kalau harus dijelaskan di sini juga. Untuk generalisasi, “sudah tidak nyaman” saya rasa sudah sangat cukup mewakilkan semuanya.

Jangan ditanya patah hatinya seperti apa. Saya termasuk tipe yang susah sekali menyerah. Karena sekali cinta, ya sampai nanti tetep cinta. Butuh dibanting berkali-kali, dibrengsekin lagi dan lagi, baru bisa merasa, oh sudah waktunya berhenti. Antara kelegaan yang menanti, sekaligus ketakutan di depan mata. Bayar cicilan pake apa? Ha ha ha.

Hai, my desk!
Hai, my desk!

Selalu ada rasa emosional tersendiri ketika ngobrolin tentang Travelingyuk. Yang terbesar adalah rasa menyayangkan. Ketika saya merasa gapapa waktu kerjaan nggak beres adalah red alert bahwa ini nggak bisa dilanjutkan, benar-benar menyakiti harga diriku karena merasa seperti itu.

Nggak mungkin nggak ada salah, termasuk kata-kata dan perbuatan yang menyinggung teman di kantor. Meski begitu, tetap ada harapan semoga dengan adanya saya sempat duduk di sana selama kurang lebih tiga tahun, dapat memberi manfaat, untuk perusahaan, maupun teman-teman lainnya. From the deepest of my heart, aku selalu mendoakan kesuksesan kita semua, no matter what flag above us.

Pengangguran Bahagia

Dua bulan nggak ngantor rasanya gimana? Ngeri-ngeri sedep juga. Di satu sisi, plong luar biasa. Nggak harus bangun jam 3 pagi to make sure everthing is ready to publish in the morning. Nggak perlu khawatir harus gimana menata muka saat bertemu dengan ‘kekasih’ yang nggak lagi dicintai. Tiap hari relaxing dengan maen bareng bayi dan mewarnai. Benar-benar recharge!

Coloring Healing
Coloring Healing

Namun, bohong kalau nggak ada kekhawatiran. Dapat duit nggak pasti kapan dan sampai kapan itu menyeramkan. Saya nggak menyarankan siapapun cabut dari kantor sebelum dapat gantinya. Atau sudah menyiapkan “Tabungan Pengangguran” untuk at least tiga bulan ke depan. Itu pun dengan janji nggak bakalan kendor cari kerja lagi dan menerima segala proyek yang datang.

Beberapa Tawaran Menarik

Gimana? Ada berapa tawaran yang masuk, Mba Mel?

Nggak bisa dibilang banyak, tapi juga nggak sedikit. Kalau hasrat sih ingin pindah ke Bali, stay di Ubud. Kerja di kafe atau tepi pantai, ditemani pacar bule (yang ini bisa dicari nanti saat udah di sana). Namun, semesta kasih hadiahnya beda.

Semoga nggak ketulah, saya menolak dua tawaran. Satu di Jakarta, satu lagi di Bali. Yaaaaah, katanya mau pindah Bali? He em, tapi ngopi tiap hari mahal, kost Bali yang enak juga lumayan, ya. Ini perkara jodoh, ini berhubungan dengan takdir, atau apalah namanya. Yang dipengen-pengen, ternyata belum dibikin berjodoh, yang alhamdullillah-nya, membuka pintu lainnya.

Ngantor Lagi!!

Nggak pernah mimpi bakalan move and stay di Jakarta, namun ternyata pindah sini juga. Yang lebih heran, di sini cukup menyenangkan. Mama berharap hayati nggak betah, but I’m sorry mom. Kerjaan ini cukup seru!

Selain apa-apa mahal, banyak juga yang perlu dipelajarin untuk bisa hidup di kota ini. Belum lama, emang. Tapi beberapa hal sudah mulai ditinggalkan. Salah satunya ‘nggak enakan’ sama orang. Hahahaha. Nanti, kalau udah agak lama, mungkin bakalan bikin tulisan Si Ndeso Ke Kota, ya.

Linear Career

Apa-apa serba digital. Beberapa profesi diramal bakalan banyak dicari dan perusahaan pun berani bayar mahal. Bakalan banyak dibutuhkan aplikasi developer, digital marketing, data analyst, juga content specialist. Nah, waktunya teman-teman semua mulai meniti satu bidang tertentu yang paling disukai dan dikuasai. Ya, harus seimbang. Suka doang tapi nggak ahli ya percuma juga. Manfaatkan kesukaan jadi dorongan untuk belajar terus.

Linear Career
Linear Career

Pengalaman-pengalaman di CV atau sekarang terpajang di Linkedin baru berasa berguna sekarang, setelah statusnya bukan lagi fresh gradueted, namun jadi experienced. Kalau nggak selinier, rasanya bakalan sayang banget. Nggak keitung, waktunya akan hilang, nggak tampak.

PR dan cita-cita jangka pendek saya adalah bisa lebih mendalami digital marketing. Biar bisa jadi all in one in me. Salah satu untungnya stay di sini adalah bakalan banyak workshop free yang bisa didatangi. Yeay!!

Wah, panjang juga jadinya. Mungkin di postingan lainnya bakalan cerita lebih banyak dan detail tentang pekerjaan barunya. See u at next post, ya.

Apa ada yang mau curhat tentang drama resign atau cari pekerjaan baru? Kolom komen dan inbox terbuka lebar, ya. Have a nice day and enjoy holiday, all.

4 thoughts on “Putus (Resign) Setelah ‘Kencan’ 3 Tahun, Sepatah Hati Apa?”

  1. halo mba. aku juga sebulan lalu resign setelah lebih dari 3 tahun kerja di media online khusus perempuan. terakhir aku jadi Editor di sana. karena media lifestyle, sama banget kaya yang mba rasain, bisa jalan-jalan gratis walaupun aku bukan di bagian travel. Bahkan aku juga ke Sanctoo Villa & Spa seperti yang di foto mba pasang itu secara gratis. Cuma keputusan untuk resign kemarin bulat banget sih. sekarang juga jadi pengangguran happy karena bisa merintis karier sbg blogger dan merintis bisnis, hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *