Apa kabar, 2020-mu? Nggak ada yang nggak berantakan. Siapa yang menyangka kalau serangan Covid-19 bertahan selama ini. Bahkan terasa jauh lebih lama karena keadaan nggak juga membaik. Virus pun lama kelamaan sudah menyentuh orang-orang yang ada di lingkaran kecil kita. Menyeramkan!

Sepanjang tahun ini, aku rasa Desember 2020 jadi yang paling menguji kesabaran. Terlebih, aku baru pindah ke Jakarta di bulan Desember 2019. Setahun ini, lebih dari sekadar melelahkan. Ini kaledioskop 2020-ku. Apa saja yang terjadi?

Januari – Sambutan Heboh Ibu Kota

Siapa yang bisa melupakan banjir di tahun baru 2020? Hampir seluruh Jakarta tenggelam. Kalau biasanya cuma lihat di televisi, ternyata kena juga nyobain dijemput pake perahu karet. My mamidarlink is freaking out haha.

Kost Jakarta
Kost Jakarta

Untungnya, kost-an tercinta ada di lantai dua. Barang-barang aman. Ya, tapi tetep aja banjir depan kost setinggi leher orang dewasa. Terjebak, nggak bisa kemana-mana, juga tanpa listrik.

Belum dapat sebulan jadi anak Jakarta, langsung dapat sambutan extraordinary, ya! Yang paling bikin terheran-heran adalah warga sekitar yang tampak super santai dan tetap beraktivitas like nothing happens! Wow!

Februari – Jadi Anak Ibu Kota

Cafe Kyo - Jakarta
Cafe Kyo – Jakarta

Gimana rasanya jadi anak ibu kota? Mahal, sis!! Nggak pernah jadi cita-cita kerja dan stay di Ibukota. Namun, manusia boleh bermimpi, tapi tetep semesta yang pegang kendali.

Review Salah Satu Hotel Jakarta
Review Salah Satu Hotel Jakarta

Surprisenya, Melisa cukup betah meski ada banyak culture shock. Selain makan, nonton, kost, biaya hidup luar biasa, ternyata kewarasan juga sangat mahal di sini. Harus berani semuanya sendiri! Itu sih salah satu pelajaran yang aku dapat. Jakarta is so fun, yet so terrifying.

Maret – Serangan Covid-19

Meski Jakarta so fun, makanan segala ada, hiburan apapun tersedia, ternyata aku juga kangen banget sama rumah. Untungnya sempat memutuskan pulang di Bulan Februari. Ternyata, setelahnya jadi nggak bisa kemana-mana, pulang susah, apalagi traveling. Bhay.

Waktu awal Covid-19 ditemukan di Jakarta, aku udah memutuskan kerja dari rumah atau kemudian ngetrend disebut #workfromhome. Bukan hal baru, sih. Tapi yang biasanya hanya pilihan, kini jadi suatu keharusan. Rasanya beda. Jauh. Btw, waktu di Jakarta juga sempat merasakan #WorkFromHotel. Lumayan jadi variasi.

April – PSBB Jakarta

Mulai 10 April 2020, PSBB di Jakarta diberlakukan. Mall tutup, cafe juga. Praktisnya, dari pagi sampe pagi, aku hanya ada di kamar kost aja. Alhamdulillah, kost-nya super nyaman dengan fasilitas lengkap. Satu-satunya traveling yang ditunggu-tunggu adalah belanja bulanan di supermarket!!

Jadi banyak banget yang dibeli hanya demi menjaga kewarasan. Panci ajaib, biar bisa masak indomie ato nugget. Beli tanaman, hey, its a trend!! Beli puzzle 1000 pieces yang kelarinnya butuh waktu dua minggu. Wow. Still, I need to meet people to stay sane.

Mei – No Plane, No Train

Mei biasanya jadi bulan penuh cinta dan tawa. Its my month!! Sedihnya, plan untuk ke Lombok bulan ini harus gagal karena salah satu efek PSBB adalah tidak adanya pesawat dan transportasi komersil lainnya. Hiks!!

Update: Tanamanku masih hidup, aku masih suka panci ajaibku untuk masak-masak.

Juni – Juli – Nggak Ada yang Sayang Aku!

Love Self
Love Self

Terjebak di dalam kamar kost selama beberapa lama ternyata nggak mudah. Aku jadi menyadari, bahwa berinteraksi dengan orang lain, bertemu orang, termasuk salah satu kebutuhan utamaku untuk tetap waras. Dan PSBB, juga kebijakan work from home membuatnya tidak mungkin.

Salah satu efek stress yang aku rasain adalah merasa sangat-sangat sendirian. Berujung merasa nggak ada yang sayang. Berinteraksi dengan teman dan keluarga lewat video call dan telepon terjadi setiap hari, tetap rasanya sama sekali berbeda. Tidak bisa memenuhi kebutuhan itu. Aku cukup berjuang untuk keluar dari ketidaknyamanan satu ini. Kebiasaan baru di masa-masa work from home adalah mengganti sarapan nasi dengan buah dan sayur. It works! Melisa nggak ngantuk dan tergoda buat ke kasur di jam kerja.

Agustus – Am I Not Pretty?

Im pretty, smart. Im whole.
Im pretty, smart. Im whole.

Ternyata, merasa sendirian bukan satu-satunya stress yang aku alamin karena harus #StayAtHome. Ketidaknyamanan lainnya adalah tiba-tiba aku merasa nggak cantik, nggak pinter, nggak berharga. Ini aneh, karena bahkan aku sadar bahwa perasaan ini nggak pernah sekalipun hinggap di aku. Semua teman dan keluargaku tahu secinta dan sebangga apa aku dengan diriku sendiri.

Meski harus bergelut dengan perasaan ini beberapa lama, akhirnya bisa juga kembali ke stage awal. Im awesome as always!!

September – Pulang ke Pulau Impian

Staycation Sol Lila - melisalalala.com
Staycation Sol Lila – melisalalala.com

September jadi bulan yang ditunggu-tunggu. Keadaannya (sepertinya) tampak membaik, meski belum. Memberanikan diri untuk terbang ke Bali dan berusaha tetap waras (lalu sadar, keadaan sebenarnya menjadi lebih buruk dari sebelumnya).

Bali selalu menjadi rumah. Rencana bepergian di bulan Mei yang gagal, coba diulang di bulan ini. Rencananya pun udah dari Juli, tapi diundur-undur sambil lihat keadaan. Kebetulan, ada pekerjaan juga yang bikin makin yakin bakalan bisa pergi, meski dengan catatan menerapkan protokol kesehatan benar-benar.

Private Pool
Private Pool

Bali selalu menyenangkan. Melewatkan waktu hampir sebulan di Pulau Dewata mustahil nggak menyembuhkanku. (Cek-cek Sol Lila dan Natya Resort Ubud,ya!!) Apalagi, sebelum flight ke Jakarta nyempetin untuk pulang ke rumah mama. Im full charged!!

Oktober – Patah Hati 

September bikin kenyang mikir, susah tidur, tertawa keras-keras, juga senyum-senyum sendiri. Oktober akhirnya menutup cerita singkat ini pake helaan napas panjang. Sempat heran, udah diumur sebanyak ini, masih juga merasakan patah hati lagi. Bukan penyesalan, hanya pelajaran lain bahwa nggak semua yang kita inginkan harus terwujud. Sekali lagi, manusia bisa berencana, semesta yang acak-acak. Tapi, karena kisah sesaat ini aku jadi lebih mengenal diriku dan mulai memperbaiki beberapa sifat yang keterlaluan.

November – New Hobbies

Salah satu cara agar tetap waras adalah dengan melakukan hal baru. Meski 2020 sangat berat dengan berbagai kejutannya, ternyata jadi tahun paling produktif buatku. Ada banyak kegiatan super new, seperti punya tanaman, masak-masak sederhana, menyelesaikan puzzle, bahkan mewarnai.

Belum cukup sibuk dan bikin kepala tetap waras, aku memilih memulai beberapa program baru. Pertama ada #RandomTalk di IGLive yang tujuannya bisa mengembalikan sensasi ngobrol sama temen waktu lagi nongkrong. Temanya dan obrolannya serandom itu dan kini udah masuk ke episode ke 4. Wow!!

Lainnya, akhirnya memberanikan diri untuk tahan malu, tebal muka dan rilis Channel Youtube yang relate sama blog ini. Hmmm, nambah-nambah kerjaan tapi it is so fun!!

Yang terakhir, setelah jadi cita-cita cukup lama akhirnya menemukan olahraga baru yang langsung jadi hobby. Bouldering!! Sayangnya baru belajar bentar udah kudu menghilang dari Jakarta, but I promise to myself bakalan nemuin wall climbing indoor lainnya di kota manapun aku akan menetap.

Desember – Penutup yang Melelahkan 

Aku pikir semesta akan melunak dan berhenti merajuk, mengingat sudah hampir setahun penuh marah-marah. Kembali tak keberatan dihinggapi kita, manusia-manusia yang tak tahu terima kasih. Ternyata, sebelas bulan sebelumnya hanya pemanasan. Haha.

Awal Desember, harus pulang ke Jawa karena nenek meninggal. I was worry about my mom. Is she okay? Is she fine? And alhamdulillah, mamidarlink is so strong. Namun, bukan itu saja yang terjadi.

Adek harus karantina mandiri dengan sang bayi karena salah satu anggota keluarga serumah di Surabaya positif Covid-19. Aku memutuskan untuk si adek karantina di hotel dekat rumah saja agar supaya keluarga yang lain bisa bantu memenuhi kebutuhannya dan sang bayi. Sempat bikin panik, mama pun sering nangis dan gemetar karena takut hasil tes Swab si adek tidak menyenangkan. Alhamdulillah, all good, all healthy. Belum, belum semuanya aku ceritakan.

Desember 2020 ini aku juga mendapat kabar kurang enak dari kantor. Intinya, aku harus bekerja jauh lebih keras dari biasanya (biasanya udah keras banget, woy! haha) untuk bisa memenuhi kehidupanku seperti biasanya.

Perjalanan ke Bali yang harusnya kerja sambil senang-senang, breakfast bareng sahabat, dan rencana explore Ubud pun mau nggak mau harus berantakan karena salah satu teman yang hasil tes Swab-nya ternyata positif. Sedih, bingung, dan akhirnya take a moment for doing nothing.

Rasanya, dihajar selama sebelas bulan, semesta menyiapkankan khusus untuk menghajar balik Desember 2020 yang ternyata jauh lebih biadap dan nggak kenal ampun.

Sweetest Things in December 2020

Family
Family

Meski Desember 2020 penuh kejutan yang nggak enak, tapi ada beberapa hal super manis yang aku anggap sebagai hadiah dari semesta. Karena musibah Covid-19 yang menimpa si adek, dia harus stay di rumah mama selama kurang lebih seminggu. Sudah lupa kapan terakhir kami berkumpul dengan formasi lengkap, plus tambahan dua bayi sebagai generasi termuda. Bahagianya melebihi yang sudah-sudah.

Brunch in Bali
Brunch in Bali

Yang kedua, dalam rangka doing nothing karena plan yang berantakan, aku jadi punya momen yang slow. Kalau biasanya kerja kerja kerja, di Bali ini aku bangun siang, berjemur, mandi, have a nice and talk brunch with girl friends. Ternyata, ini salah satu hadiah dari semesta setelah hampir setahun struggle alone di Jakarta, lengkap dengan berbagai stress-nya. And I want to enjoy every second of it.

Big Decision on December 2020

Move to Bali (?)
Move to Bali (?)

Berkah lainnya di Desember 2020 adalah lahirnya keputusan yang sudah jadi cita-cita sejak lama: MOVE TO BALI FOR GOOD!! Wow!!

Im not sure 100% yet about this. But, yeah, almost fix tho. Bakalan tulis lebih detail tentang ini nanti, ya.

Welcoming 2021!!

Welcoming 2021
Welcoming 2021

Kalau ditanya apakah bersemangat menyambut 2021? Yes!! Selama masih hidup, rasanya sah-sah aja menjadikan hari esok sebagai harapan baru. Jadi merasa ada kesempatan untuk keadaan yang lebih baik, rejeki yang lebih melimpah, kesehatan yang lebih baik, juga lebih-lebih yang lainnya.

Selain itu, nggak sedikit juga yang dipelajari dari 2020 yang jauh banget dari kata mudah. Salah satunya adalah jadi jauh lebih gampang bersyukur untuk yang dipunya. Kesehatan, pekerjaan-pekerjaan kecil, teman-teman baik, waktu berkumpul dengan keluarga. Never take these things for granted. You never know what the future brings. Memang bisa jadi lebih buruk. Tapi heyyy, jangan menutup kemungkinan justru hal lebih baik yang akan terjadi. Ya, kan! Keep positive!

Kalau biasanya pada bikin resolusi untuk menyambut tahun baru, aku hanya ingin satu dan mendoakan dalam-dalam untuk diaminkan semesta: Semoga aku dan orang-orang tercinta tetap sehat agar bisa terus berusaha apapun yang harus diusahakannya. 

HAPPY NEW YEAR 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *